Archives for 

cerpen

Gema

Suatu hari ada seorang ayah yang usainya sudah cukup lanjut. Ia telah begitu banyak menimba ilmu dari berbagai bentuk perjalanan kehidupan yang telah ia lalui. Suatu hari ia hendak mengajarkan suatu ilmu kepada anak laki-laki satu-satunya yang baru berumur sekitar delapan sampai sembilan tahun.

Sang ayah mengajak anaknya mengembara ke daerah pegunungan yang sangat terjal. Perjalanan sangat melelahkan. Anak kecil itu berjalan sempoyongan dan sesekali terjatuh di atas serpihan bebatuan yang tajam. Ia berjalan tanpa mengenakan alas kaki sehingga membuat kedua kakinya terluka. Anak kecil itu menjerit kesakitan:

”Aduuuuuuuuuuuuuuuu…uuuuuuuuu..uuuuuuhhhhh….!”

Jeritan itu mengnenai diding tebing pegunungan dan dipantulkan menimbulkan gema:

”Aduuuuuuuuuuuuuuuu…uuuuuuuuu..uuuuuuhhhhh….!”

Anak kecil itu sangat heran dengan apa yang terjadi. Belum pernah sekalipun ia menjumpai hal serupa selama hidupnya.

Anak kecil itu kemudian berteriak keras:

”Siapa Kamu…!?”

Suara itu mengenai dinding tebing dan tak lama kemudian terdengar gema yang ditimbulkan.

”Siapa Kamu…!?”

Mendengar hal ini anak kecil itu menjadi sangat marah.

”Penakut…!”, teriaknya lantang.

Suara itu pun dipantulkan oleh dinding tebing dan menghasilkan bunyi yang sama.

”Penakut…!”

Anak kecil itu menjadi sangat kalut, tak mengerti apa yang telah terjadi. Ia kemudian mendekati ayahnya dan bertanya:

”Yah, aku tak mengerti apa yang telah terjadi…?”

Sang ayah tersenyum mendengar pengaduan anaknya itu, ”perhatikan anakku”, kata ayahnya.

Sang ayah kemudian menghadap ke arah tebing dan berteriak keras:

”Semuanya baik-baik saja…!”

Jawaban yang sama datang dari dinding tebing:

”Semuanya baik-baik saja…!”

”Aku cinta padamu”

”Aku cinta padamu”

Anak kecil itu malah menjadi semakin heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Setelah itu sang ayah menjelaskan:

”Nak, orang-orang menyebutnya itu adalah ”Gema”, namun sebenarnya ia adalah kenyataan kehidupan yang sesungguhnya. Yaitu apapun yang kamu perbuat dalam kehidupan ini, ia akan kembali sama kepada kita. Apa saja yang kamu kerjakan dalam kehidupan ini tidak akan mungkin menghasilkan hal yang berbeda. Jika engkau menginginkan kehidupan yang rukun dengan sesama teman, maka kamu pun harus baik dan rukun terhadap temanmu. Jika kamu menginginkan orang lain tidak nakal dan mau memaafkan dirimu, maka engkaupun tidak boleh nakal dan mau memaafkan kesalahan temanmu itu. Peganglah prinsip ini dalam kehidupan sehari-harimu:

”Apapun yang kamu lakukan dalam kehidupan ini, ia akan kembali sama kepadamu. Jika yang engkau lakukan baik, maka ia pun akan kembali baik kepadamu. Sebaliknya jika yang engkau lakukan jelek maka ia pun akan kembali jelek kepadamu. Persis sama seperti gema”.

Anonim

A Secret

 She still stood. The long gate at the edge of the hospital was the only witness to see her crying. In her hand, there was a piece of paper, which had been given by the nurse an hour ago when her name was called. A piece of paper declared about her positive cancer, which had […] Continue reading →